Korupsi, Perspektif Antropologi


Praktik korupsi di Indonesia sudah di luar nalar sehat. Korupsi itu bukan hanya dilihat dari miliaran rupiah yang dicuri, melainkan pelakunya juga orang-orang terhormat di lembaga kenegaraan dan pemerintahan.
Bahkan, di antara pelaku korupsi itu ada yang berasal dari akademisi dan aktivis gerakan antikorupsi, komunitas yang dianggap sebagai pengawal moralitas publik dan penjaga etika sosial. Ini fakta paradoksal sekaligus ironi tak terperi. Bagaimana ilmu antropologi menjelaskan fenomena sosial yang merisaukan ini? Paling tidak ada tiga penjelasan.

KONTRA MEMORI BANDING





Atas putusan Pengadilan Negeri Depok
Nomor             : 134/PDT.G/2012/PN.DPK.
Tanggal           : 22 April 2013
Antara

Lidawati alias Mama Firhan, beralamat di Jl. Raya Muchtar RT. 03 / 07 No. 38 Kelurahan Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Dalam hal ini bertindak selaku pribadi, selanjutnya di sebut  Terbanding semula Penggugat.
Lawan

Abdul Kadir, beralamat di Jl. Raya Muchtar RT. 02 / 07 Kelurahan Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, selanjutnya disebut Pembanding semula Turut Tergugat.

Kepada Yang Terhormat
Ketua Pengadilan Tinggi Bandung
Di Bandung
melalui :
Yang Terhormat,
Ketua Pengadilan Negeri Depok
Di Tempat.


Dengan hormat.

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama :  Lidawati alias Mama Firhan
beralamat di Jl. Raya Muchtar RT. 03 / 07 No. 38 Kelurahan Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Dalam hal ini bertindak selaku pribadi, selanjutnya di sebut  TERBANDING semula PENGGUGAT.

Terbanding dengan ini ingin mengajukan perlawanan terhadap Memori Banding yang diajukan oleh :

Abdul Kadir, beralamat di Jl. Raya Muchtar RT. 02 / 07 Kelurahan Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, selanjutnya disebut sebagai PEMBANDING dahulu TURUT TERGUGAT;
Yang Memori Bandingnya telah diserahkan di Pengadilan Negeri Depok pada tanggal 7 Mei 2013 dan diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Depok pada tanggal 13 Mei 2013. Sebagai berikut :

KESIMPULAN DALAM PERKARA NOMOR: 134/Pdt.G/2012/PN.DPK


Depok,  28 Maret 2013
KESIMPULAN DALAM PERKARA
NOMOR: 134/Pdt.G/2012/PN.DPK

Antara

Lidawati alias Mama Firhan, beralamat di Jl. Raya Muchtar RT. 03 / 07 No. 38 Kelurahan Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok. Dalam hal ini bertindak selaku pribadi, selanjutnya di sebut PENGGUGAT.

Melawan

Imas Masitoh, beralamat di Jl. Raya Muchtar RT. 02 / 07 Kelurahan Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, selanjutnya disebut TERGUGAT.

Abdul Kadir, beralamat di Jl. Raya Muchtar RT. 02 / 07 Kelurahan Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, selanjutnya disebut TURUT TERGUGAT.

Ini lah kisahku'



Bertahun-tahun aku pendam kisah ini,
berharap, cukup aku saja yang tau
Tapi ku tak kuasa, ku tak mampu
untuk tidak menceritakannya'
Kisah yang pernah kuceritakan:
Kepada Pak Harto, dan dia mengatakan; "Beri aku kesempatan sekali lagi"
Kepada Pak Habibie, dia berujar; "Mana mungkin saya bisa! ini kan cuma transisi"
Kepada Gusdur, tanpa beban dia berucap; "Begitu saja kok repot"
Kepada Pak SBY, dia hanya bisa terharu kemudian menangis'
tapi
ku tak berani menceritakannya kepada Bu Mega, karena takut ada fitnah, kenapa? bukan muhrim kataku'

Masih Adakah NyiMasKanjengRatuKu'

kenang kita malam ituMasih terbayang membelai jiwakuTerasa bahagia ada di sampingmu'
Sayang, getar rindu ini tak mau menjauhInginkan dirimu selalu menyentuhTebaran kasih sayangmu yang utuh'#berharapNyata'


SALAM LENSA

Wacana pandidikan terus berkembang sejalan dengan semangat zaman. Para pemikir dan praktisi pendidikan sepakat bahwa karakter building bangsa adalah dipendidikan . 
Dinamika dan kompleksitas pendidikan menjadi sangat menarik, bagi orang yang peduli terhadap dunia (idealis), begitupun menjadi menarik bagi orang yang punya banyak kepentingan (pragmatis).

Pendidikan sebagai PABRIKAN untuk memproduksi SDM, tetapi manusia bukan barang mentah menjadi barang jadi. Pendidikan membangun nilai kemanusian dengan pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia itu sendiri (memanusiakan manusia).disertai syarat dan muatan nilai kebaikan.

Perumusan pendidikan dan anggaran yang besar tidak akan menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia apabila manusia yang terlibat tidak memiliki rasa kemanusian peduli pada sesama.

Issu pendidikan berbasis karakter dan perubahan kurikulum di Indonesia hanya diminati bagi manusia yang pragmatis, orang pintar hanya mempintari orang yang kurang pintar, tapi bagi manusia yang idealis, pendidikan menghasilkan kebaikan, kemandirian keberanian ,dan sains yang sejalan dengan kebermanfatan manusia itu sendiri'